News headline

Tersus Tak Miliki Amdal, PT. Roshini Leluasa Jual Ore

Tersus Tak Miliki Amdal, PT. Roshini Leluasa Jual Ore

Keterangan Gambar : Aktivitas pengapalan ore nickel di Tersus milik PT. Roshini Indonesia. Foto: Kendari Pos.

Aktivitas penambangan nickel yang dilakukan PT. Roshini Indonesia di Blok Lasolo Kepulauan, Kabupatem Konawe Utara (Konut) terus menjadi sorotan berbagai pihak. Pasalnya, perusahaan ini diduga kuat melakukan pengerukan dan penjualan ore tanpa dilengkapi dokumen perizinan alias ilegal.

Parahnya lagi, berkas tersangka Lily Sami dari PT Roshini telah dinyatakan memenuhi syarat untuk disidangkan (P21) oleh Kejaksaan Agung. Dengan demikian, perusahaan itu semestinya tidak boleh beraktivitas karena kasus yang melibatkan perusahaan itu adalah dugaan kejahatan lingkungan.

Dilansir dari lama suarakarya.id, Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono membenarkan bahwa berkas perkara Lily Sami dari PT. Roshini telah dinyatakan pihaknya memenuhi syarat untuk disidangkan. Namun, penyidik Mabes Polri belum menindaklanjutinya dengan menyerahkan berkas dan tersangkanya ke penuntut umum (tahap dua).

Selain itu, PT. Roshini Indonesia juga beroperasi dan melakukan pengapalan hingga pelayaran melalui terminal khusus (Tersus) miliknya, padahal pembangunan Tersus itu tak disertai dengan izin lingkungan berupa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Dilansir dari potretterkini.id, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sultra menegaskan, bahwa Tersus PT. Roshini yang beroperasi di Kecamatan Lasolo Kepulauan belum memiliki Amdal.

Kepala DLH Sultra, Ansar mengungkapkan, hingga saat ini, PT. Roshini belum pernah mengajukan permohonan Amdal atas Tersus miliknya. Apalagi, saat ini pihak perusahaan masih berproses hukum di internal mereka.

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, lanjutnya, jika berkaitan dengan pengurusan Amdal, dalam polemik hukum, maka mestinya menunggu putusan pengadilan tentang dibolehkan atau tidak untuk mengurus Amdal.

“Jika sudah ada putusan pengadilan, maka membolehkan atau tidak PT. Roshini mengurus Amdal, hal tersebut yang sedang kami tunggu,” ujar Ansar di ruang kerjanya, Senin (21/12/2020) dilansir dari laman potretterkini.id.

Lebih lanjut, Kadis Lingkungan Hidup menjelaskan terkait proses permohonan Amdal yang benar. Ansar menerangkan, bahwa perusahaan termohon terlebih dahulu melalui Dinas PTSP untuk diteliti. Jika sudah benar dan lengkap di PTSP, maka dilanjutkan ke DLH untuk diproses lebih lanjut.

” Atas perkara ini, DLH tetap melakukan penelitian lebih mendalam dan menyeluruh sesuai peraturan perundang-undangan di bidang LH. Dan di DLH wajib clear and clean tanpa masalah,” jelasnya.

Hal lain terkait dugaan kejahatan yang dilakukan PT. Roshini Indonesia adalah hilangnya satu pontoon (tongkang) bermuatan ore nickel yang sebelumnya di police line oleh Polda Sultra, karena tak memiliki izin Tersus.

Kemudian, adanya penambahan dump truck untuk pengangkutan ore nikel, tapi izin opersi dari Dirjen Hubla diduga belum terbit. Dan sudah dua pontoon terisi serta berangkat ke smelter.

Hingga berita ini dipublish, wartawan Sultrust.id belum berhasil mengakses pihak perusahaan untuk dikonfirmasi soal pemberitaan ini. (p4/ik)

About Author

admin